azithromycin buying online azithromycin canada azithromycin canadian pharmacy azithromycin capsules azithromycin cheap azithromycin chlamydia azithromycin drug azithromycin for bronchitis azithromycin from india azithromycin generic azithromycin generic brands azithromycin generic zithromax azithromycin india azithromycin medication azithromycin medicine azithromycin mexico azithromycin no prescription azithromycin no prescription needed azithromycin online azithromycin online no prescription azithromycin online pharmacy azithromycin online purchase azithromycin online without prescription azithromycin oral suspension buy levitra brazil buy levitra by mail buy levitra canada buy levitra cheap buy levitra cheap online buy levitra croatia buy levitra fast buy levitra finland buy levitra france buy levitra free shipping buy levitra from canada buy levitra generic buy levitra guam buy levitra in costa rica buy levitra in europe buy levitra in india buy levitra in uk buy levitra international pharmacy buy levitra ireland buy levitra italy buy levitra jordan buy levitra low price buy levitra low price free delivery buy levitra lowest prices cheap cialis generic canada cheap cialis online cheap tadalafil 20mg cheap tadalafil india cheap tadalafil no prescription cheap tadalafil tablets cheap tadalafil uk cheapest generic cialis cheapest tadalafil online cialis 20 mg cialis 20 mg canada cialis 20 mg cost cialis 20 mg price cialis 20 mg tablet lil cialis 20 mg tablets cialis 200 mg cialis 30 mg cialis generic 5mg cialis generic canada cialis generic from canada cialis generic india cialis online pharmacy cialis order canada cialis price

Menghalau Penyakit dengan Sendok dan Tanduk Kerbau

10/18/2006 - admin

profilharjantonirmala1006.jpg

Pria yang pernah menjadi pengusaha di bidang interior ini sekarang serius menterapi pasien. Ia meyakini bahwa obat bukanlah satu-satunya media yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit. Melalui Neuro Tendo Stimulasi (NTS) atau terapi sendok ia membuktikannya.

“Tidak semua penyakit bisa disembuhkan dengan obat. Penyembuhan dapat dilakukan dengan penyaluran energi CHI, melalui sentuhan atau perangsangan pada saraf-saraf untuk melancarkan sirkulasi darah,” Ujar Haryanto, master kungfu, master chikung, dan terapis NTS ketika nirmala bertandang kerumahnya dibekasi.
Berpegang pada keyakinan tersebut, ia memperkenalkan satu teknik penyembuhan yang merupakan hasil perkawinan antara penyaluran energi chi dengan memberi stimulasi pada saraf-saraf, yang dikenal dengan terapi sendok atau NTS

Menstimulasi saraf
Siang itu diruang tamunya, Haryanto mengeluarkan beberapa jenis sendok dari dalam tasnya. Ada sendok makan, sendok nasi dan sendok bebek yang sudah dimodifikasi. Dugaan kami bahwa ia sedang mempersiapkan makan siangnya ternyata meleset, karena alat-alat tersebut digunakan untuk menerapi pasiennya.

“Sendok-sendok itu saya gunakan untuk merangsang saraf-saraf yang berada dikepala, punggung, lengan, kaki dan leher,” katanya.

Sedangkan untuk merangsang saraf-saraf yang halus seperti yang terdapat di seputar mata, ia akan menggunakan alat seukuran pinsil yang terbuat dari tanduk kerbau.

Pemakaian alat-alat yang terbuat dari aluminium dan tanduk kerbau dipercaya dapat menyerap energi-energi negatif dan racun. “Tetapi bagi saya, pemakaiana alat-alat itu sebagai nilai tambah saja. Bukan merupakan suatu hal yang mutlak,” Katanya. Oleh karenanya, ia sering juga menstimulasi saraf-saraf pasiennya dengan tusk gigi atau anak kunci. ” Ada atau tidak adanya alat, terapi bisa berjalan. Prinsip saya adalah tidak tergantung pada apa pun. Seandainya harus menggunkan tangan , ya tangan saja.” Ujar Haryanto yang juga menguasai teknik pijat shiatsu ( teknik tekan jari dari jepang).

Siang itu ia mengobati seorang teman saya yang lengannya sakit karena terjatuh daro motor. Untuk itu ia menggunakan sendok makan. Teman saya kelihatannya sangat menikmati sensasi terapi tersebut itu. Sepuluh menit kemudian, ia tersenyum sambil berkomentar lengannya sudah nyaman kembali.

Suhu HarjantoMelancarkan sirkulasi darah
Dalam pengobatan timur, menurut Haryanto tidak mengenal chi baik atau chi jelek. Kesehatan bisa dicapai apabila terjadi keseimbangan antar yin dan yang di dalam tubuh fisik maupun tubuh energi (yang tidak dapat dilihat kasat mata oleh orang awam) seseorang.

“Cara kerja terapi ini adalah memperbaiki dan mengoptimalkan sistem saraf di sepanjang tulang belakang dan tendon atau otot dan urat. Terapi ini akan memperlancar peredaran darah, serta memperbaiki organ tubuh sehingga kualitas kesehatan dapat ditingkatkan,” Katanya

Ia kemudian menjelaskan dengan sederhana, mengibaratkan orang sakit dengan selang air yang tersumbat. ” Dalam kondisi demikian, otomatis aliran air yang keluar akan tersendat. Tetapi apabila selang air tersebut diperbaiki , maka aliran airnya akan lancar kembali,” ujarnya

Ibarat menyisir sisik ikan
Pria berusia 53 tahun itu selalu serius wajahnya apabila sedang memberi terapi pasien.Ia tidak banyak berkata-kata. Justru yang ‘berisik’ adalah jari-jarinya. Jari tangan kiri, misalnya, menyisir saraf dan urat dengan gerakan seperti orang yang sedang membersihkan sisik ikan. Jika didengarkan, bunyinya sret…sret…sret…sret” Sementara jari tangan kanannya menstimulasi, dan mengembalikan posisi urat dan saraf ke tempat semula. Apabila diamati gerakan kedua tangannya seperti menarik dan mendorong.

Dalam memberi terapi, ia akan meminta pasiennya untuk tidur dengan posisi telentang. Kemudian ia akan mendeteksi energi penyakit dengan telapak tangannya. Setelah itu, pasien diminta telungkup. Dengan posisi demikian, Haryanto akan menstimulasi saraf-saraf pasiennya dengan peralatan tersebut. Langkah terakhir yakni pemberian energi chi.”Pemberian energi chi itu untuuk melancarkan energi ditempat-tempat yang bermasalah dan meridian-meridian tubuh, sehingga akan mempercepat proses penyembuhan.” ujarnya.

Pelaku vegetarian lactoovo
Sabar , tenang penuh welas asih, tergambar diraut wajah Haryanto yang oval. Postur tubuhnya yang ideal ( tingi 170cm, berat 69 KG) selalu dibalut dengan pakaian yang rapi dan bersih. Saat bercengkrama bersama keluarga maupun pada waktu menghadi pasien, wajahnya selalu mencerminkan kesegaran.

Sebagai penghusada, tampil bersih dan segar agaknya sudah menjadi keseharian Haryanto. Boleh jadi kesegarannya itu karena ia banyak makan sayur dan buah.Empat tahun belakangan ini , ia menjadi pelaku lacto ovo vegetarian ( tidak makan daging, tetapi masih makan telur, susu dan olahannya, Red)

” menjadi vegetarian untuk menumbuhkan rasa welas asih kepada sesam mahluk tuhan,” ujarnya. ” Setelah menjadi vegetarian dan sering meneguk air putih, saya merasa nyaman dan jarang sakit,”timpalnya.

Selain itu, ia selalau menciptakan suasana nyaman, baik dirumah bersama Emmi, istrinya, serta kedua nanaknya Rama dan Shanty, maupun diklinik bersama kedua asistennya.”Bagi saya sangat penting menjalani hidup dengan gembira, bekerja dengan tenang, sehingga akan timbul kecerahan pikiran,” Ujarnya

Rutin meditasi, melatih kesabaran
Selain mengatur pola makan, ia juga rutin melakukan meditasi pada pagi hari. ” Meditasi sangat baik untuk melatih kesabaran kita,” kata Haryanto yang mempunyai tempat meditasi khusus di lantai dua rumahnya. Ketekunannya bermeditasi serta kedisiplinan berlatih chikung dan kungfu agaknya juga menjadi pengokoh fondasi kesehatannya.

Berpenampilan sehat dan segar seperti itu, menjadi nilai tambah tersendiri bagi Haryanto. Beberapa waktu lalu ia tampil menjadi bintang iklan Biotherapy-lamp (lampu bioterapi). Dalam potonganiklan tersebut, ia tampil segar berlatar belakang Kebun Raya Bali sambil menjelaskan pentingnya berlatih chikung untuk meningkatkan kualitas kesehatan.Ia kemudian memperagakan beberapa gerakan chikung yang lembut dan indah.

Guru kungfu perguruan Ular Mas
Merambah Haryanto kedunia penyembuhan, berawal pada tahun 1976 ketika ia menjadi guru kungfu dibeberapa kota di Jawa Tengah. ” Ketika mengajar teknik-teknik kungfu memukul lawan, saya sering mendapati murid-murid yang terkilir atau sakit akibat terpukul. Setelah latihan selesai, saya memijat mereka sampai mereka pulih kembali,” tuturnya.

Kesembuhan murid-muridnya itulah yang membuat nama Haryanto kemudian dikenal sebagai terapis. Tahun 1982, melalui seorang guru, ia mempelajari teknik memijat dengan menggunakan peralatan sederhana seperti ranting pohon dan batu. dari situ ia mengembangkan sendiri teknik-teknik stimulasi saraf dengan alat bantu.

“Dengan memodifikasi alat-alat stimulasi tersebut, bukan hanya pasien yang terkilir kakinya atau keseleo kakinya yang bisa saya terapi, melainkan juga mereka yang sering mengeluh sakit kepala seperti migrain , vertigo serta pasien yang bermasalah karena dislokasi tulang belakang karena saraf terjepit (HNP) dll” ujar pria yang kini praktik di Pro V clinic itu.

Menjalankan misi kemanusiaan
Sifat welas asih Haryanto yang juga salah seorang pengurus APALI (asosiasi penyembuh alternatif indonesia) tidak bisa dibendung, ketika terjadi gempa bumi di Yogyakarta, 27 mei 2006. Kendati pada hari yang sama ia sudah mengantongi tiket ke negeri jiran Malaysia untuk menghadiri pertemuan para pengobat alternatif disana, demi misi kemanusaian, ia malah mengemudikan mobilnya ke Yogyakarta.

Berbekal peralatan sederhana dan dibantu oleh asisten dan para murid kungfunya di Yogyakarta, ia membantu para korban gempa. ” Pos kesehatan kami banyak di kunjungi oleh korban gempa yang minta diberi terapi pada bagian-bagian tubuh yang tidak dapat diberi terapi oleh pengobatan medis,” katanya.
Dalam sehari, ia dan rekan-rekannyamengobati 60-70 pasien. ” Kami melihat, mereka agaknya mendambakan penyembuhan seperti yang kami terapkan karena selain tidak memakai obat terapi ini langsung dapat meringankan rasa sakit mereka,” sambungnya.

profilharjanto2nirmala1006.jpgSaling Mengisi
Menurut pengamatan Haryanto, korban gempa biasanya mempunyai masalah pada kaki, tangan, atau tubuhnya karena tertimpa benda keras. ” Apabila mereka hanya diberi obat saja, penyembuhan memerlukan waktu yang cukup lama. Tetapi setelah diberi terapi, dilancarkan energinya, penyakit mereka bisa diringakan. Bahkan, beberapa orang bisa langsung melakukan aktivitas kesehariannya kembali. Ini membuktikan bahwa obat bukanlah satu-satunya media penyembuh,”lanjutnya.

Tidak semua korban bisa datang ke Pos Penyembuh Alternatif Terapi Sendok (NTS) itu. Salah seorang ibu, karena tidak keberdayaannya, terpaksa harus didatangi ke tempat pengungsiannya.

” Hati saya trenyuh begitu melihat tenda ibu itu terletak di tepi jalan. Tempat tidurnya selembar daun pintu beralaskan tikar,” katanya. Setelah diterapi, ibu yang semula tidak bisa duduk dan berdiri langsung bisa berjalan. ketika ditanya apakah sudah membaik, si ibu langsung menjawab, ” sampun sekeco ( sudah lebih nyaman). ” saya benar-benar bahagia,” tutur Haryanto sambil mengelus dadanya.

Dengan pengalam-pengalam tersebut, ia menyimpulkan bahwa sebenarnya antara pengobatan medis dan komplementer, harus saling mengisi.

“Para korban gemap Yogya dan Bantul mengatakan bahawa mereka begitu mengharapkan ‘ dokter-dokter’ tanpa obat seperti kami. Saya pikir sudah saatnya pengobatan medis merangkul para pengobat komplementer dalam menangani korban bencana alam.” ujar Haryanto yang sudah dua kali membantu korban gempa di Yogya dan Bantul serta menterapi korban Tsunami di Pangandaran.

Mengumpulkan Barang Antik
Kami kembali ke ruang tamu sambil menanyakan asal-usul alat-alat stimulasi yang jenisnya cukup banyak itu. Haryanto tersenyum,” Sendok-sendok ini saya cari dipasar tradisional. Sering penjualnya atau pembeli lain binggung melihat saya menggosok-gosok wajah atau leher dengan sendok nasi ini. Mereka tidak mengerti yang sedang saya perbuat,”katanya.

Sedangkan alat-alat yang terbuat dari tanduk kerbau diburu dipasar BeringharjoYogyakarta. ” tetapi setelah dibeli ” saya bakar dan saya bentuk terlebih dahulu. Lalu saya coba lagi untuk menstimulasi saraf-saraf. Apabila sasarannya belum tepat, saya bentuk lagi sampai benar-benar sesuai dengan keinginan saya.” tutunya.

Melihat begitu banyak orang yang terbantu melalui terapi sendok ini, ada beberapa penelitian antaranya yang bergelasr Profesor Dokter yang menghubungi Haryanto dan menyatakan bersedia melakukan penelitian terhadp terapi ini. Tentu saja ia gembira. ” Harapan saya dengan terapi yang sederhana ini, pasien cepat mendapat kesembuhan,” ujarnya. Hidup Sendok.

Sumber: Nirmala 10/2006, Emma Madjid

Tags: