Menghalau Penyakit dengan Sendok dan Tanduk Kerbau10/18/2006
Pria yang pernah menjadi pengusaha di bidang interior ini sekarang serius menterapi pasien. Ia meyakini bahwa obat bukanlah satu-satunya media yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit. Melalui Neuro Tendo Stimulasi (NTS) atau terapi sendok ia membuktikannya. “Tidak semua penyakit bisa disembuhkan dengan obat. Penyembuhan dapat dilakukan dengan penyaluran energi CHI, melalui sentuhan atau perangsangan pada saraf-saraf untuk melancarkan sirkulasi darah,” Ujar Haryanto, master kungfu, master chikung, dan terapis NTS ketika nirmala bertandang kerumahnya dibekasi. Menstimulasi saraf “Sendok-sendok itu saya gunakan untuk merangsang saraf-saraf yang berada dikepala, punggung, lengan, kaki dan leher,” katanya. Sedangkan untuk merangsang saraf-saraf yang halus seperti yang terdapat di seputar mata, ia akan menggunakan alat seukuran pinsil yang terbuat dari tanduk kerbau. Pemakaian alat-alat yang terbuat dari aluminium dan tanduk kerbau dipercaya dapat menyerap energi-energi negatif dan racun. “Tetapi bagi saya, pemakaiana alat-alat itu sebagai nilai tambah saja. Bukan merupakan suatu hal yang mutlak,” Katanya. Oleh karenanya, ia sering juga menstimulasi saraf-saraf pasiennya dengan tusk gigi atau anak kunci. ” Ada atau tidak adanya alat, terapi bisa berjalan. Prinsip saya adalah tidak tergantung pada apa pun. Seandainya harus menggunkan tangan , ya tangan saja.” Ujar Haryanto yang juga menguasai teknik pijat shiatsu ( teknik tekan jari dari jepang). Siang itu ia mengobati seorang teman saya yang lengannya sakit karena terjatuh daro motor. Untuk itu ia menggunakan sendok makan. Teman saya kelihatannya sangat menikmati sensasi terapi tersebut itu. Sepuluh menit kemudian, ia tersenyum sambil berkomentar lengannya sudah nyaman kembali.
“Cara kerja terapi ini adalah memperbaiki dan mengoptimalkan sistem saraf di sepanjang tulang belakang dan tendon atau otot dan urat. Terapi ini akan memperlancar peredaran darah, serta memperbaiki organ tubuh sehingga kualitas kesehatan dapat ditingkatkan,” Katanya Ia kemudian menjelaskan dengan sederhana, mengibaratkan orang sakit dengan selang air yang tersumbat. ” Dalam kondisi demikian, otomatis aliran air yang keluar akan tersendat. Tetapi apabila selang air tersebut diperbaiki , maka aliran airnya akan lancar kembali,” ujarnya Ibarat menyisir sisik ikan Dalam memberi terapi, ia akan meminta pasiennya untuk tidur dengan posisi telentang. Kemudian ia akan mendeteksi energi penyakit dengan telapak tangannya. Setelah itu, pasien diminta telungkup. Dengan posisi demikian, Haryanto akan menstimulasi saraf-saraf pasiennya dengan peralatan tersebut. Langkah terakhir yakni pemberian energi chi.”Pemberian energi chi itu untuuk melancarkan energi ditempat-tempat yang bermasalah dan meridian-meridian tubuh, sehingga akan mempercepat proses penyembuhan.” ujarnya. Pelaku vegetarian lactoovo Sebagai penghusada, tampil bersih dan segar agaknya sudah menjadi keseharian Haryanto. Boleh jadi kesegarannya itu karena ia banyak makan sayur dan buah.Empat tahun belakangan ini , ia menjadi pelaku lacto ovo vegetarian ( tidak makan daging, tetapi masih makan telur, susu dan olahannya, Red) ” menjadi vegetarian untuk menumbuhkan rasa welas asih kepada sesam mahluk tuhan,” ujarnya. ” Setelah menjadi vegetarian dan sering meneguk air putih, saya merasa nyaman dan jarang sakit,”timpalnya. Selain itu, ia selalau menciptakan suasana nyaman, baik dirumah bersama Emmi, istrinya, serta kedua nanaknya Rama dan Shanty, maupun diklinik bersama kedua asistennya.”Bagi saya sangat penting menjalani hidup dengan gembira, bekerja dengan tenang, sehingga akan timbul kecerahan pikiran,” Ujarnya Rutin meditasi, melatih kesabaran Berpenampilan sehat dan segar seperti itu, menjadi nilai tambah tersendiri bagi Haryanto. Beberapa waktu lalu ia tampil menjadi bintang iklan Biotherapy-lamp (lampu bioterapi). Dalam potonganiklan tersebut, ia tampil segar berlatar belakang Kebun Raya Bali sambil menjelaskan pentingnya berlatih chikung untuk meningkatkan kualitas kesehatan.Ia kemudian memperagakan beberapa gerakan chikung yang lembut dan indah. Guru kungfu perguruan Ular Mas Kesembuhan murid-muridnya itulah yang membuat nama Haryanto kemudian dikenal sebagai terapis. Tahun 1982, melalui seorang guru, ia mempelajari teknik memijat dengan menggunakan peralatan sederhana seperti ranting pohon dan batu. dari situ ia mengembangkan sendiri teknik-teknik stimulasi saraf dengan alat bantu. “Dengan memodifikasi alat-alat stimulasi tersebut, bukan hanya pasien yang terkilir kakinya atau keseleo kakinya yang bisa saya terapi, melainkan juga mereka yang sering mengeluh sakit kepala seperti migrain , vertigo serta pasien yang bermasalah karena dislokasi tulang belakang karena saraf terjepit (HNP) dll” ujar pria yang kini praktik di Pro V clinic itu. Menjalankan misi kemanusiaan Berbekal peralatan sederhana dan dibantu oleh asisten dan para murid kungfunya di Yogyakarta, ia membantu para korban gempa. ” Pos kesehatan kami banyak di kunjungi oleh korban gempa yang minta diberi terapi pada bagian-bagian tubuh yang tidak dapat diberi terapi oleh pengobatan medis,” katanya.
Tidak semua korban bisa datang ke Pos Penyembuh Alternatif Terapi Sendok (NTS) itu. Salah seorang ibu, karena tidak keberdayaannya, terpaksa harus didatangi ke tempat pengungsiannya. ” Hati saya trenyuh begitu melihat tenda ibu itu terletak di tepi jalan. Tempat tidurnya selembar daun pintu beralaskan tikar,” katanya. Setelah diterapi, ibu yang semula tidak bisa duduk dan berdiri langsung bisa berjalan. ketika ditanya apakah sudah membaik, si ibu langsung menjawab, ” sampun sekeco ( sudah lebih nyaman). ” saya benar-benar bahagia,” tutur Haryanto sambil mengelus dadanya. Dengan pengalam-pengalam tersebut, ia menyimpulkan bahwa sebenarnya antara pengobatan medis dan komplementer, harus saling mengisi. “Para korban gemap Yogya dan Bantul mengatakan bahawa mereka begitu mengharapkan ‘ dokter-dokter’ tanpa obat seperti kami. Saya pikir sudah saatnya pengobatan medis merangkul para pengobat komplementer dalam menangani korban bencana alam.” ujar Haryanto yang sudah dua kali membantu korban gempa di Yogya dan Bantul serta menterapi korban Tsunami di Pangandaran. Mengumpulkan Barang Antik Sedangkan alat-alat yang terbuat dari tanduk kerbau diburu dipasar BeringharjoYogyakarta. ” tetapi setelah dibeli ” saya bakar dan saya bentuk terlebih dahulu. Lalu saya coba lagi untuk menstimulasi saraf-saraf. Apabila sasarannya belum tepat, saya bentuk lagi sampai benar-benar sesuai dengan keinginan saya.” tutunya. Melihat begitu banyak orang yang terbantu melalui terapi sendok ini, ada beberapa penelitian antaranya yang bergelasr Profesor Dokter yang menghubungi Haryanto dan menyatakan bersedia melakukan penelitian terhadp terapi ini. Tentu saja ia gembira. ” Harapan saya dengan terapi yang sederhana ini, pasien cepat mendapat kesembuhan,” ujarnya. Hidup Sendok. Sumber: Nirmala 10/2006, Emma Madjid Tags: Neuro Tendon Stimulation |


Melancarkan sirkulasi darah
Saling Mengisi