SENDOK SAYUR YANG BIKIN WANITA SUBUR

10/23/2008 -

Wanita memasak dengan aneka sendok dapur, itu mah sudah biasa.Tapi kalau wanita tidak subur lalu diterapi dengan alat-alat dapur, itu baru namanya tidak biasa. Aneh, sudah barang tentu hasilnya?

ntsintisari-feb08pics.jpg

Retno, karyawati sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta, pernah merasakan manfaat lain dari sendok-sendok dapur ini. Bukan untuk membuat sayur asem atau lodeh. Tapi untuk mengatasi gangguan kesehatan yang di alami.

Awal tahun 2003, ia menikah. Pertengahan tahun itu, dari pemeriksaan dokter diketahui ternyata ia menderita endometriosis. Di dalam indung telurnya di temukan kista 8 cm. Oleh dokter, ia disarankan menjalani operasi. Tak ada pilihan lain, saat itu ia pun menjalani operasi laparoskopi pengangkatan kista. Setelah kista di operasi, dokternya ” mengharuskan” ia dan suami untuk segera merencanakan kehamilan. Sebab, kalau tidak segera hamil di khawatirkan kistanya akan tumbuh lagi.

tapi ditunggu-tunggu, ternyata ia tidak hamil-hamil. Karena curiga masalahnya ada di pihak laki-laki, maka suaminya pun melakukan pemeriksaan kesehatan ke dokter andrologi. Hasilnya,  ternyata sperma suaminya oke-oke saja.

Dari pemeriksaan selanjutnya, disimpulkan bahwa masalah ada di pihak istri. Benar saja,beberapa bulan sesudah itu, Retno kembali merasakan nyeri di perut bagian kiri. Setelah diperiksa, ternyata kistanya tumbuh lagi di tempat yang sama. Kali ini bahkan tiga kista sekaligus.

Bermacam-macam ikhtiar pengobatan sempat ia coba. Sampai berkali-kali pindah dokter. “Kami bukan hanya mencari second opinion, tapi sampai sixth, seventh opinion,” katanya. Bukan itu saja, ia juga mencoba berbagai pengobatan alternatif. Tapi hasilnya tak ada yang memuaskan.

Karena adanya kista ini, siklus menstruasinya menjadi kacau. Dalam satu bulan, kadang ia bisa haid dua kali. Akibatnya, jadwal minum obat dari dokter juga ikut kacau karena mengikuti siklus menstruasinya yang amburadul. Pada saat yang sama, ia juga menderita gangguan syaraf tulang belakang bagian pinggul. Jika hendak memakai celana, ia merasakan nyeri di daerah itu.

Kista hilang, hamil datang

Selama hampir tiga tahun, ia mencoba berobat kebanyak dokter. Aneka jenis pengobatan alternatif juga sudah ia coba. Tapi tidak ada yang berhasil. Kista tidak hilang, gangguan tulang belakang tak berkurang.

Atas saran dari ibunya, ia mencoba datang ke klinik pengobatan yang kebetulan lokasinya tidak jauh dari rumahnya. Ia datang dengan niat mengatasi masalah tulang belakangnya. Untuk sementara, masalah kista ia lupakan. Di klinik itu,ia menjalani terapi stimulasi syaraf yang namanya cukup asing, Neuro Tendo Stimulasi (NTS).

Metodenya mirip akupresur tapi stimulasi titik-titik syaraf dilakukan dengan alat-alat dapur. Ada sendok makan, sendok sayur, centong (sendok nasi), sampai sendok es krim. Selain sendok, stimulasi juga dilakukan dengan alat-alat yang terbuat dari tanduk kerbau.

Kepada Haryanto, terapis NTS yang menanganinya di klinik pro V  di Jakarta Pusat, Retno juga menceritakan semua gangguan kesehatan yang dialaminya. Termasuk kista yang ada di dalam indung telurnya yang  membuat ia sulit hamil.

Sekali, dua, tiga, empat kali menjalani terapi, ia merasa tak ada kemajuan berarti. Tiap minggu ia dua kali “disendoki”. Saat itu sempat meragukan efektifitas terapi. Tapi ia tetap meneruskannya karena menganggap terapi itu relatif aman sebab ia tidak perlu minum obat ini-itu. Apalagi dokternya juga mengijinkan ia melanjutkan terapi sendok tersebut.

Setelah beberapa belas kali disendoki, ia baru merasakan perbedaan berarti. Gangguan tulang belakangnya mulai hilang, tubuhnya juga terasa lebih sehat. Di luar dugaan, ketika memeriksakan diri ke dokter,  ia baru sadar bahwa kistanya juga mengecil sampai tidak terdeteksi lagi. Kejutan itu hanya sampai di situ. Beberapa bulan kemudian, di awal 2007, menstruasinya berhenti. Setelah di cek, ternyata ia baru saja memperoleh hadiah yang selama ini ia tunggu-tunggu bersama suaminya. Setelah menanti selama empat tahun lebih, akhirnya ia positif hamil.

Saat awal menjalani terapi sendok sayur,  Retno hanya berniat membetulkan saraf tulang belakang di bagian pinggulnya yang bermasalah. Kista adalah urusan nomor dua. Ia menganggap kedua gangguan ini sebagai dua hal yang berbeda, yang tidak punya hubungan satu sama lain.

Tapi berlawanan dengan dugaannya, haryanto justru berpendapat sebaliknya. Menurutnya, kedua masalah itu saling berhubungan.  Masalah kista di organ reproduksinya itu disebabkan oleh gangguan saraf yang diderita tulang pinggulnya. karena itu, ketika masalah sarafnya berhasil diatasi, kistanya pun hilang.

Pengobatan ala kungfu

Konsep dasar terapi yang dilakukan oleh Haryanto,sebetulnya bukan terapi yang aneh dan bukan sama sekali baru. Haryanto, mengaku mengembangkan terapi ini dari keahliannya bermain kungfu.

Saat latihan kungfu, ia biasa mengobati murid-muridnya yang mengalami cidera dengan pijatan di titik-titik tertentu. Biasanya pengobatan hanya dilakukan dengan jari tangan. Belakangan, ia mengembangkan metode ini, tidak hanya menggunakan jari tangan, tapi juga dengan benda-benda lain seperti ranting kayu. tusuk  gigi, sendok, anak kunci dan sebangsanya.

Pengobatan ala kungfu ini digabungkan dengan konsep tentang fungsi tulang belakang. baik dalam tinjauan kedokteran modern maupun pengobatan tradisional Cina,tulang belakang merupakan organ yang sangat penting. Selain menjadi penyangga tubuh, tulang belakang juga menjadi kanal yang melindungi jaringan saraf. Jaringan saraf ini menjadi penghubung antara otak dan organ-organ tubuh lainnya. Tak terkecuali organ reproduksi. Jika terjadi gangguan di tulang belakang, kabel-kabel saraf itupun bisa terganggu. Akibatnya, kerja organ yang disarafi juga bisa bermasalah.

Dalam konsep NTS, organ-organ reproduksi dikendalikan oleh jaringan saraf yang kabel utamanya melewati tulang belakang bagian bawah. Jika terjadi gangguan di tempat ini, organ-organ reproduksi pun bisa terganggu. Pada kasus Retno, gangguan itu terjadi pada tulang belakang bagian pinggul dan pinggang.

Tidak semua bagian organ reproduksi disebabkan oleh gangguan syaraf ditempat ini. Bisa saja disebabkan oleh faktor lain. Mungkin saja penyebabnya gangguan hormonal yang tidak berkaitan dengan tulang belakang. Namun, kata Haryanto, gangguan di tempat ini sering terjadi dan kerap diabaikan karena dianggap tidak penting.

Sebelum memutuskan terapi buat pasiennya, Haryanto selalu meminta catatan medis berdasarkan pemeriksaan dokter. Sebab, jika satu pasangan tidak kunjung punya momongan, bisa jadi masalahnya di salah satu dari suami istri atau bahkan keduanya. Pemeriksaan dari dokter itu berguna untuk memastikan siapa yang akan diterapi. Apakah istri atau suami saja, ataukah keduanya. Dalam kasus Retno, masalahnya terletak pada pihak istri saja. Karena itu yang di terapi pun hanya Retno. Suaminya tidak.

Terapi kekuatan pikiran

Dalam menerapi pasiennya, Haryanto menggunakan pendekatan holistik seperti yang lazim dalam pengobatan tradisional Cina. Meliputi terapi ditubuh fisik, tubuh energi,  dan tubuh pikiran. Ketiganya adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Diklinik, pasien biasanya menjalani terapi ini sekitar setengah sampai satu jam.

Pertama-tama pasien menjalani stimulasi saraf, terutama saraf tulang belakang. Pasien dalam keadaan tengkurap sementara terapis “menyendoki” titik-titik saraf, mulai ujung kepala sampai ujung kaki, dengan posisi terbesar di bagian tulang belakang.

Selain menggunakan aneka sendok-sendokan, stimulasi juga dilakukan dengan alat-alat yang terbuat dari tanduk kerbau. Bentuknya bermacam-macam, menyesuaikan peruntukannya. Ada yang ujungnya lancip, tumpul, pipih, dan sebagainya. Haryanto sengaja memililh tanduk kerbau karena sifatnya yang mudah di bentuk. Selain itu, dalam konsep NTS, tanduk kerbau juga bisa menyerap energi negatif.

Setelah melakukan “penyendokan”, terapis melanjutkan dengan terapi ditubuh energi. Terapi tahap kedua ini menggunakan energi chi atau prana. Dalam tahap ini, Haryanto akan mendeteksi tubuh pasiennnya dengan menggunakan gelombang energi. Dari situ, ia bisa mengetahui daerah mana yang energinya kurang dan perlu dibersihkan.

Terapi tahap selanjutnya adalah terapi tubuh pikiran. Pada tahap ini, pasien di ajak untuk rileks, tenang, dan pasrah sebisa mungkin. Bukan hanya saat di terapi di klinik, tapi juga saat berada di rumah maupun di tempat kerja. “Kalau kita cemas, maka tubuh kitapun akan kena pengaruh negatifnya,” kata Haryanto.

Kepada Retno, misalnya, Haryanto menanamkan pentingnya kekuatan pikiran. Sehari-hari Retno meyakinkan kepada dirinya sendiri bahwa kistanya akan hilang, bahwa ia akan hamil. Afirmasi ini terus di tanamkan didalam pikiran. “Sampai kalau sedang santai di kantor, saya nulis ‘ kista saya hilang, kista saya hilang, kista saya hilang,” tutur Retno

Tak lupa, sebelum pulang pasien juga diajari latihan fisik ringan untuk membantu pembetulan tulang belakangnya. Latihan fisik ini harus sering-sering dilakukan di rumah atau di kantor. Pasien juga diajari tentang sikap tubuh yang benar untuk menghindari gangguan tulang belakang. Misalnya, bagaimana cara duduk, cara mengangkat beban, cara berdiri, cara tidur, dan sebagainya.

Jika pasien ingin kesembuhan yang lebih cepat lagi, ia bisa melakukan penyembuhan sendiri dengan energi chi atau prana. Latihan ini bisa dlakukan sendiri dirumah. Tapi khusus untuk urusan sendok-menyendok, ia harus datang ke klinik sekalipun di rumah ia punya koleksi sendok lebih lengkap.Ini memang bukan perkara koleksi sendok, tapi keterampilan menyendok

Intisari feb 08, M.Sholekhudin

Tags: , , , , , , , ,